Date :23/10/18<<>>Time :17:52
HomeAbout meWisata dan kuliner kotawonosoboUpdate postGuestbook
"Isy ma syi'ta fainnaka Mayyitun, Wahbib ma syi'ta fainnaka Mufarroquhu, Wa'mal ma syi'ta fainnaka Majziyun bihi"
(hiduplah sesuka hatimu tetapi (ingat) engkau pasti akan mati.Cintailah siapa pun yang ingin engkau cintai,tetapi (ingat) engkau pasti akan berpisah darinya.Berbuatlah sesuka hatimu,tetapi (ingat) engkau pasti akan mendapatkan balasannya)

KAYA YANG SEBENARNYA

Rasulullah Saw. Bersabda, "bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa." (Muttafaqun 'alaihi).

sesungguhnya kekayaan itu terbahagi kepada dua bagian, iaitu kekayaan metarial dan kekayaan hati rohani.

Kekayaan material,satu perkara yang amat diimpikan oleh kebanyakan manusia. Bahkan,tidak salah sekiranya dikatakan amat jarang kita temui manusia yang tidak inginkan kekayaan,kerana hampir kesemua manusia itu menginginkan kekayaan.

kekayaan hati rohani jg,adalah tenangnya hati dengan terhiasnya hati oleh sifat-sifat mahmudah dan budi pekerti yang tinggi. Contohnya sifat ikhlas, sabar, syukur, tawakal dan banyak lagi yang disebutkan di dalam kitab-kitab akhlak.

Ibnu Baththal berkata :

"Hakikat kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, kerana kebanyakan manusia yang dilapangkan hartanya tidak puas dengan harta yang telah dimilikinya, sehingga selalu berusaha untuk menambah hartanya dan ia tidak perduli darimana mendapatkannya. Akan tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa, iaitu orang yang merasa cukup terhadap apa yang telah diberikan kepadanya (qona'ah), redha, dan tidak tamak dalam mencari harta. Maka ia adalah orang kaya yang sebenarnya."

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina') adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari no. 6446  dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ. قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه. قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata padaku, "Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?" "Betul," jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, "Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?" "Betul," Abu Dzar menjawab  dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, "Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas)." (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu'aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini  shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih  mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona'ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, "Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus  menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan- akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik- baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang  selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona'ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak  pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya)."

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, "Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona'ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya.  Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona'ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia  tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta'ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari."

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

"Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati)."

( Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11 /272, Darul Ma'rifah.)

An Nawawi rahimahullah mengatakan, "Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati."

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7 /140, Dar Ihya' At Turots.)

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

"Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan." (HR. Ibnu Majah no. 2141  dan Ahmad 4 /69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini  shahih )

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona'ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona'ah. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

"Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona'ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do'anya. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca do'a: "Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal 'afaf wal ghina" (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat 'afaf dan ghina)." (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, ""Afaf dan 'iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia."

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17 /41)

milikilah sifat qona'ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

wallahu a'lam


<<=BACK
Jihad melawan hawa nafsu
NEXT=>>
Mahalnya nilai hidayah




Insane